dan Gunung-Gunung Menjulang Tinggi


Para Perantau.

di lereng-lereng bukit lawu
para perantau
mendaki gunung lelah
kadang mereka terpeleset
jatuh
dan mendaki lagi
memetik kebebasan
di Hargo Dumilah

mereka oleng
tapi mereka bilang
– kami takkan karam
dalam kebebasan –
mereka canda-tawa
jatuh
dan mendaki lagi

di puncak gunung ini
mereka berhasil memetik kebebasan
mereka menyimpan kebebasan
dan kebebasan menyimpan mereka

di puncak lawu
semuanya diam dan tersimpan.

2018





Menapaki senja di pagi hari

pertama melangkah aku baca
ada angin memompa gelisah
pupus memenuhi hutan basah
kaki diri yang lama tak melangkah

jangan bertanya berapa panjang jalan ini
pada masanya kita bakal menahu
melangkahlah dengan hati-hati
karena pagi masih jauh untuk disinggahi

lihatlah,
kanan kiri terdapat rimbun rumpun ilalang
didalamnya ada air embun berjatuhan
tapi bukan air mata langit yang kering
ialah air mata kita disaat jejakan kaki menyentuh hati.

jangan bertanya berapa panjang jalan ini
pada masanya kita bakal menahu
di mana letak puncak sejati
tempat hati diletakkan
hati yang bertolak mencari
di mana kehidupan sejati

lihatlah,
lembayung langit dari timur
langkahmu mulai mengeja hari
tak perlu tergesa-gesa mencari senja
kerna ia tau senja pagi ini belum ada tanda-tandanya

2018







 

Kembali Pulang

kau
pulang dari gunung saat hujan
yang tak sepenuhnya reda
tentu saja tak ada yang kering
di rambutmu
dan basah pasar itu
mengikutimu sampai reda hujan

malam
begitu tepat
dingin itu
diam di telapak tanganku,
batang rambut yang basah kuyup
terekam kembali,
aku semakin lupa cara mengasihi diri sendiri
dan sehelai hujan itu
tampak bercabang saja
di lehermu, leherku
dingin sungguh
kita.

2018






Ibu di kawah Merapi

di gunung ini kutitipkan kenangan pada kabut
kupahatkan nama kita di batu-batu
supaya angin yang datang mengabarkan kepada ibu.

tentang rindu yang dipendam di puncak ketinggian.
tentang segala rasa yang sulit terucapkan.

diantara kegagahan kawah dan Merapi
di gunung ini pasir dan batu menjadi saksi
dulu kaki kita pernah dijejakkan disini.
diharibaan kawah sang merapi
tepat ketika pagi
ketika sepasang mata melihat senja di pagi buta.

di gunung ini kenangan kita tulis dengan ingatan
dengan lelah
dengan keringat yang menetes dari
lengkung punggung para pendaki.

di gunung ini ingatanku tentang ibu kuukir dengan doaku
dengan restumu
dengan kasih-sayangmu yang tak bakal reda ditelan masa.

Terimakasih ibu
Terimakasih Merapi.

2018







Di bebatuan Sindoro.

Dingin udara Sindoro yang membawa kami ke gunung ini.
Tidak ada masa lalu yang butuh di kunjungi

Tubuh-tubuh kaku di atas batu-batu
runcing menuju licin pada kaki,
Tirai fajar berwarna merah
dan orang-orang yang memotret diam-diam
--ada kami disana.

Pada sebuah tebing, Soe Hoek Gie sedang murung di tebing yang lain kami sedang bingung;
di mana masa lalu?

Tidak ada masa lalu di Sindoro
masa lalu telah menyusun dirinya di diri setiap manusia.

2017













Senja Sabana 1

Mengejar senja di balik dua bukit Sabana
hanya untuk sekedar melihat-lihat
seberapa eloknya dibanding elokmu
yang sungguh letih kumeraihnya

Dari batu tulis hingga batu lukis dari
kabut awan hingga kabut air dari
hujan air hingga hujan keringat dari
panas menyengat hingga dingin kudapat

Mengejar senja di balik dua bukit Sabana
mengartikan semua gerak kaki-kakiku
hijau yang luas dan senja yang menjanjikan
selalu getar saat kaki melangkah ke depan

Dari puncak kentengsongo menuju
Puncak trianggulasi kutemukan beberapakali
Edelweiss termenung sepi
Beberapa jahitan luka memburu kaki

Mengejar senja di balik dua bukit Sabana
keluh-keluh dan kesah-kesah keluar
dari mulut mereka, aku diam dan melihat
banyak edelweiss termenung di pohonnya.

2018















Sajak kau dan gunung

1/
Aku izin pamit untuk merenung
Ke tempat yang disebut gunung
Tenang, kita masih bisa berjumpa
Di alam lain yang bernama doa

2/
Keindahan adalah buah dari renung
yang ditumbuhkan oleh gunung
Dan waktu adalah tabib yang mampu
Menyembuhkan seluruh rindu

3/
Gunung dan kamu tak ada bedanya
Gunung menampung pesona
Dan kamu menampung air mata
Keduanya sama-sama berasal dari cinta

4/
Di Gunung, di kenangan yang purba
Telah kuhadapi rahasia langit dan semesta
Dan di matamu kala itu nampak sabda abadi
Sebaris puisi yang mengemban amanat sepi

5/
Senja yang pendar dibalik bukit
Ingin kau merasakannya sedikit
Bahwa tak ada kekata yang indah
Kata-kataku kalah dengan do'a.

2018









Pahlawan bercaping

kau tarik gerobak berisi
daun, plastik dan bangkai-bangkai manusia
meninggalkan sampahnya

sepatu panjang hitam simbolmu
setiap pagi kau tawaf ke seluruh
area sampah

senjatamu adalah sapu dan ikrak
sapu kau ukir jadi pedang keadilan
ikrak kau pahat jadi tameng kesabaran

kebesaranmu ada di setiap untaian tangan
mengambil sampah di sebrang jalan
berjalan pelan-pelan ke tepian.

kau tahan terik dan hujan dengan caping
lusuh akan terik kumuh akan hujan
kau tetap pada jalan kekotoran.

tak ada resah akan hidup di punggungmu
cukup senyum yang terbit di bawah caping
di balik sapu dan ikrak di semesta raya.

2018








Woh kudu

Woh kudu
Malammu dunia dadakan
Gerus keringat malam
Tetes air hujan ke pipi kenangan.

Woh kudu
Debar hantaman ombak
Derai gerusan pasir pantai
Menuai pasang malam kepada pagi

Woh kudu
Jepitan dua anak bukit
Pasar malam pindah tempat
Bising orang suara gasing

Woh kudu
Tirai mata rindu mentari
Terik harapan sedari tadi
Karang diam dipukul air asin

Woh kudu
Berita larut malam gencar
Sepasang minuman
Jadi kehangatan

Woh kudu
Perih luka bilas air tawar
Luka nganga hati getar
Bulan malu tuk berpijar

Woh kudu
Pagi kurindu selalu
Siang harapan pulang
Malam tempatku mengadu perasaan

Woh kudu
Pejam mata berat rasa
Jenuh rengkuh kasat mata
Alkohol tercium pekat baunya

Woh kudu
Jangan kemari tanpa jeda
Jangan lalai mereka
Membatu keras membata.

Panggang, 2017








Bintang-bintang Jung Wok

bintang-bintang nampak terang
di langit-langit gelap
di bawahnya laut biru ombak berderu-deru
pasir alas mimpi membentuk cita belaka
ada unggun dari kayu-kayu
penjual kayu
ada dingin malam ada pasir berserakan
ada hangat api ada senyum
berseri-seri

bintang-bintang tak ada yang gerak
mereka rukun satu kerukunan di langit biru tua
kita manusia duduk dengan anggunnya unggun
melihat laut meluas-luas dan akhirnya tertidur di pasir pulas

bintang-bintang kembali ke rumah
memenuhi kebutuhannya untuk nampak di malam berikutnya
kita manusia bangun dengan surutnya laut
melihat mentari merebah dan akhirnya pulang ke rumah

2018






















Komentar